Setiapanggota keluarga harus menerima Yesus dalam hatinya. Keluarga juga harus punya jam ibadah bersama setiap hari, memuji Tuhan, membaca Firman Tuhan, saling mendoakan bersama. Yang terakhir, untuk memperoleh berkat Tuhan di dalam keluarga kita, kita harus siap melakukan apa yang Allah firmankan (ayat 5).
Dibagian ini termasuk pembacaan Alkitab, khotbah, saat teduh, Pengakuan Iman dan doa syafaat. Lagu yang dinyanyikan dalam ibadah (biasanya setelah khotbah) semestinya mendukung, menguatkan dan menegaskan Firman Tuhan yang diberitakan, bukan dengan tema yang berbeda (mis.: Tema khotbah PENGAMPUNAN, lagunya tentang baiknya persekutuan).
Kamiingin berdoa juga untuk kepanitiaan natal, Iya bapa di sorga, kami juga ingin berdoa untuk keluarga jemaat Tuhan disini. Berkati kehidupan yang rukun dan damai ditengah keluarga kami masing-masing Doa Pembukaan khotbah (Minggu, 15 September 2019) Bacaan 1: Keluaran 32: 7-14.
PUJIPUJIAN : TATA IBADAH PELAYANAN FIRMAN TUHAN P - Doa - Membaca Alkitab Menyambut Natal Yesus Kristus - KHOTBAH Keluarga Besar Rukun " Kasih Oroh" PERSEMBAHAN P Marilah kita sujud menyembah-Nya dengan membawa persembahan terbaik kita kepadanya sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang majus pada Provinsi Sulawesi Utara waktu mereka memnjumpai bayi Yesus di Bethlahem.
Bahagiadalam arti kebutuhan tercukupi, damai, rukun, sukacita - diberkati Tuhan. Lompat ke Konten. Mencari Sesuatu? GPdI GINOSKO. Beranda; Khotbah; Tentang. Tentang Kami; kehidupan keluarga Anda yang baik sekarang ini, bisa rusak oleh karena dosa Anda - tidak taat kepada perintah Tuhan. Perayaan Natal 2019. 4 Petunjuk Untuk
Terdapatberagam bahan yang dapat Anda nikmati bersama keluarga untuk menyambut dan merayakan Natal, yang disertai dengan panduan untuk melakukan berbagai aktivitas berdasarkan bahan yang tersedia. Melalui paket ini, Anda dapat berbagi pelajaran, sukacita, pengalaman, dan semangat Natal yang sejati dalam memperingati kelahiran Kristus bersama
KahadiranKristus Sebagai Juruselamat Menandai Era Anugerah Khotbah Natal 25 Desember 2018. Rancangan Khotbah • 11 December 2018 • Dewan Pembinaan Teologi GKJW. Bacaan 1 : Yesaya 62:6-12. Bacaan 2 : Titus 3 :4-7. Bacaan 3 : Lukas 2:8-20. Tema Liturgis : Kristus hadir dan menjadi dasar hidup. Tema Khotbah: Kahadiran Kristus sebagai
SERIKHOTBAH KISAH PARA RASUL PASAL 9-18. Pdt.Budi Asali, M.Div. Kisah Para Rasul 9:1-31. Catatan: Paulus menceritakan pertobatannya ini dalam Kis 22:1-21 dan Kis 26:12-23. Dengan membandingkan Kis 9 ini dengan Kis 22 dan Kis 26, maka kita akan mendapat gambaran / cerita yang lebih lengkap tentang pertobatan-nya.
RenunganHarian Kristen, Saat Teduh, Bahan Khotbah, Kesaksian, Renungan Hidup Rohani, Firman Tuhan & Membership untuk Akses Renungan Online Setiap Hari.
Tiadakata omelan, tiada kata-kata kasar yang ia ucapkan. "Tuhan telah mendengarkan doa anak-anakmu setiap tahun saat Natal. Kami memohon kepada-Nya untuk mengembalikan engkau kepada kami pada satu pesta Natal," kata sang istri kepada suaminya. Kisah ini mengajarkan bahwa doa dan pengampunan merupakan ungkapan cinta dan kesetiaan pasutri juga.
EMHBNj. Tema Natal “Hidup Bersama Sebagai Keluarga ALLAH”, dengan Sub Tema “Natal memotivasi kita untuk memelihara kerukunan hidup dengan ALLAH, sesama dan lingkungan.” “Sekarang malam telah lenyap dan fajar baru kini menyapa kita. Waktu memang berputar begitu cepat, dan tak terasa hari Natal pun kembali menjelang. Sejenak kita meninggalkan segala kesibukan dan berhimpun di sini sambil memandang pada Betlehem, kota mungil tempat Allah telah menyatakan diri dalam rupa manusia. Dan dalam kebersamaan sebagai orang-orang percaya, sehati mengangkat doa dalam pengharapan akan Hidup Bersama Sebagai Keluarga ALLAH.” Demikian sepenggal kalimat yang dikutip dari Liturgi Kebaktian Natal 25 Desember 2015 Ajakan Beribadah. Kebaktian Natal di Jemaat Gunung Sinai Naikolan dipimpin oleh pelayan tamu, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, dari Jemaat Betlehem Oesapa Barat-Klasis Kupang Tengah. Pembacaan Firman Tuhan terambil dari Kitab Kejadian 912-17 “Perjanjian Allah dengan Nuh” dan Injil Lukas 28-20 “Gembala-gembala.” Mengawali khotbahnya, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, menyoroti tentang semarak perayaan Natal yang cenderung telah menggeser makna Natal yang sebenarnya yakni kesedehanaan. Natal saat ini lebih bersifat ekonomis; mencari keuntungan daripada hidup dalam kebersamaan. ………………………………………………………. Dalam Kejadian 91-17, simbol pelangi yang menjadi tanda kehidupan yang baru/pembaharuan ciptaan Allah. Harapan hidup yang baru juga hadir dalam Yesus Kristus. Harapan hidup baru dimulai dari keluarga, karena Yesus juga lahir dari sebuah keluarga. Yesus lahir memabawa sukacita dan kelepasan. ………………………………………………………. Tema di atas mengajak kita untuk hidup bersama sebagai keluarga Allah. Untuk mewujudkannya, kita memiliki tugas dan tanggungjawab sebagai berikut Melakukan teladan Yesus dengan cara mengembangkan hidup sederhana, peduli satu dengan yang lain, tidak serakah dan tidak egois. Hidup damai, rukun, adil, bahagia dalam keanekaragaman sebagai keluarga Allah walaupun adanya tantangan berupa kesenjangan dan perbedaan yang bisa menjadi faktor penghambat. Hidup dalam kasih; kita merayakan Natal karena kasih Allah yang begitu besar kepada kita. Oleh sebab itu, kita juga harus hidup dalam kasih terhadap sesama, dan rela berkorban demi kebaikan orang lain. Menjaga keutuhan ciptaan Allah dengan memelihara kerukunan hidup dengan Allah, sesama dan lingkungan lihat Sub Tema. Mengakhiri khotbahnya, Pdt. Jodi Nenobais-Kebang, menekankan behwa merayakan Natal bukan sekedar merayakan sukacita, melainkan melakukan tindakan nyata untuk memelihara keutuhan ciptaan dan memelihara kerukunan hidup. Kebaktian Natal 25 Desember 2015 di Jemaat Gunung Sinai Naikolan juga diisi dengan permainan musik dari grup “Kolaborasi Musik Anak Jemaat Betlehem Oesapa Barat”. Selamat merayakan Natal 25 Desember 2015! Tuhan Yesus berkati!
Intisari khutbah Jum’at, 3 Maret 2006 M / 3 Shaffar 1427 H Oleh Zulkifli Rahman, Setiap orang yang berumah tangga siapapun orangnya pasti menginginkan rumah tangganya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. Inilah inti do’a yang diaminkan segenap undangan ketika juru do’a memimpin do’anya pada setiap walimatul ursy saat pesta perkawinan. Keluarga sakinah merupakan langkah awal untuk menyongsong kehidupan abadi, yaitu kehidupan surgawi di akhirat yang sakinah, hanya disediakan untuk orang-orang yang berjiwa sakinah dan hidup dengan sakinah. Allah SWT menggambarkan dalam Al-Qur’an يَآأَيَّتُهَاالنَّفْسُ إِلَىرَبِّكِ رَاضِيَةً جَنَّتِي , artinya “Wahai jiwa yang tenteram. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridho dan diridhoi. Lalu masuklah ke dalam kelompok hamba-hambaku yang shaleh dan masuklah ke dalam surga Ku” QS. 89 Al-Fajr 27-30. Keluarga sakinah merupakan langkah awal membangun kehidupan berbangsa dan bernegara yang sakinah. Rumah tangga merupakan unit terkecil dari kehidupan berbangsa dan bernegara. Kondisi bangsa dan negara sangat ditentukan oleh kondisi rumah tangga. Karena itu rumah tangga yang rusak akan menyebabkan bangsa dan negara rusak/kacau dan terpuruk. Sebaliknya rumah tangga sakinah akan membawa kehidupan berbangsa dan bernegara yang sakinah. Allah mengisyaratkan dalam surat 90 Al-Balad 1-3 artinya “Tidak begitu, Perhatikanlah negeri ini, sedang engkau sendiri bertempat tinggal di negeri ini, dan juga Bapak beserta Anak”.Keluarga sakinah bertujuan mendapatkan keturunan/generasi yang ideal; beriman, bertaqwa, cerdas, berakhlak karimah dan قُرَّةُ اَعْيُنْ, sebagaimana do’a yang diajarkan Allah رَبَّنَاهَبْ لَنَامِنْ أَزْوَاجِنَاوَذُرِّيَّاتِنَاقُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَالِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا , artinya “Ya Tuhan kami anugerahkanlah kepada kami dari pasangan-pasangan kami dan anak cucu kami sebagai penyejuk mata dan jadikanlah kami sebagai pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa” QS. 25Al-Furqon 74. Generasi seperti tersebut dalam ayat do’a di atas bertumbuh kembang dari keluarga sakinah. Generasi seperti itulah yang kini sedang kita dambakan dalam rangka mengantisipasi KRISIS DEMORALISASI yang sedang melanda masyarakat kita, terutama di kalangan generasi muda kita. Banyak berita-berita setiap hari tentang adanya masalah-masalah yang actual, yang memang disebabkan dari akibat pengaruh-pengaruh adanya PORNOGRAFI dan PORNOAKSI, bahkan konon akan terbit di Indonesia majalah PLAYBOY, kemudian adanya korban-korban NARKOBA dan lain sebagainya. Memang ada tangan-tangan jahil yang bermaksud jahat untuk meruntuhkan bangunan Islam, dimulai dengan menghancurkan generasi muda/generasi pewaris. Bagaimana usaha-usaha kita, apa dibiarkan saja RUSAK dan HANCUR, generasi ini sementara menanti dan menanti RUU Anti Pornografi / Pornoaksi saja belum juga disyahkan. Menurut Harian Republika kemarin tanggal. 2/3-06 hal. 5 bahwa RUU APP tersebut mengalami deadlock dan diduga ada kepentingan KAPITALIS GLOBAL yang mencoba menggagalkan penyusunan RUU-APP lewat perpanjangan tangannya di Indonesia. Sebagai muslim tentu kita telusuri ajaran Islam yaitu back to basic. Karena itu untuk menciptakan keluarga sakinah itu, perlu beberapa hal sejak awal-awalnya demi menuju بَيْتِىجَنَّتِى , kata Nabi “Rumahku Surgaku” yaitu antara lain I Harus ada kesamaan aqidah suami – isteri. Oleh karena itu faktor niat untuk menikah dan memilih pasangan harus didahulukan niat ibadah dan karena agama, sebab yang seagama, Insya Allah akan selamat, lihat II Seluruh anggota keluarga harus berakhlakul karimah, terutama dalam hal berkata-kata yang benar. Karena besar sekali dampaknya dalam kehidupan berrumah tangga. Allah berfirman, artinya “Dan berkata-katalah dengan baik / tepat. Niscaya Allah akan memperbaiki perilakumu yang sangat bermanfaat bagi kamu dan Allah mengampuni dosa-dosa kamu…” QS. 33 Al-Ahzab 70 – 71 III Harus ada kemauan memahami dan mengamalkan syari’at Islam, terutama tentang batasan HALAL dan HARAM. Dengan demikian seluruh aktivitas yang dilakukan oleh anggota keluarga, baik di dalam maupun di luar rumah, ketika bekerja maupun sedang istirahat, ketika beribadah maupun sedang bermain-main, tidak ada yang menyimpang dari riil syari’ah. Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW اِذَااَرَادَاللهُ اَهْلَ بَيْتٍ خَيْرًافَقَّهَهُمْ ِفىالدِّيْنِ , artinya “Apabila Allah menghendaki kebaikan kepada Pembina Rumah Tangga, maka Allah akan memberikan pemahaman tentang agama kepada mereka” HR. Bukhari. IV Harus ada saling pengertian. Setiap Manusia tidak luput dari kekurangan. Demi keharmonisan Rumah Tangga, kekurangan itu harus dieliminasi dan diantisipasi sejak dini dengan menumbuhkan saling pengertian, terutama antara suami isteri. Hal ini diisyaratkan Allah dalam Surat Al-Baqarah 228, artinya “Perempuan isteri mempunyai hak seimbang dengan kewajiban-kewajiban atas mereka dengan cara-cara yang baik”. V Harus ada kepemimpinan dan ketaatan kepada pimpinan. Dalam hal ini kepemimpinan dibebankan kepada laki-laki suami, sedangkan isteri harus patuh. Namun semuanya harus dalam batas-batas alal birri wat taqwâ. Allah SWT berfirman dalam Surat ke-4, An-Nisa ayat 34, artinya “Laki-laki suami adalah pengurus atas perempuan isteri, lantaran Allah telah melebihkan sebagian kamu atas sebagian yang lain, dan lantaran suami harus menafkahkan isteri dari harta-harta mereka. Maka isteri-isteri yang sholihah adalah isteri-isteri yang patuh dan menjaga diri ketika suami tidak berada di rumah dengan aturan yang telah ditetapkan Allah”.Demikianlah khutbah singkat ini, semoga Allah menjadikan kita mampu membangun Rumah Tangga kita sakinah untuk menuju “rumahku surgaku”. Amin. Filed under Tak Berkategori
Sebagai orang Kristen, sepanjang hidup kita tentu sudah berkali – kali kita merayakan Natal. Tahun ini bisa jadi kita sudah menghadiri lebih dari satu kali perayaan Natal. Paling tidak menerima undangannya, jika tidak bisa menghadiri semua undangan itu. Apa yang Saudara dapatkan dalam perayaan Natal itu? Renungan natal? Hadiah atau doorprize? Makanan dan minuman? Pertunjukan drama dan nyanyian yang bagus? Dalam peristiwa Natal kita merayakan perjumpaan Allah dan manusia. Setiap orang yang sudah berjumpa dengan Allah akan menyatakan dampak perjumpaan itu dalam hidup bersama sebagai keluarga Allah. Yesus lahir di tengah kehidupan sebuah Keluarga Yusuf dan Maria. Dalam kisah kelahiran Yesus ada keluarga - keluarga yang bersukacita karena berjumpa dengan Allah Zakharia dan Elisabeth, Keluarga para Gembala, Keluarga Para Majus. Kita semua ada ditengah kehidupan sebuah keluarga. Sementara itu keluarga kita berada bersama keluarga-keluarga lainnya dalam sebuah keluarga besar umat manusia. Keluarga besar umat manusia mendiami bumi yang menjadi rumah kita bersama. Di bumi yang satu ini, kita ditempatkan oleh Tuhan bersama seluruh ciptaan lainnya. Di situlah kita hidup bersama sebagai keluarga Allah. Kitab Kejadian 916 yang kita jadikan pijakan renungan mengatakan “Jika busur itu ada di awan, maka Aku akan melihatnya, sehingga Aku mengingat perjanjian-Ku yang kekal antara Allah dan segala makhluk yang hidup, segala makhluk yang ada di bumi”. Ayat ini menyatakan bahwa Allah membarui perjanjian-Nya, perjanjian keselamatan dengan seluruh ciptaan-Nya. Kita ingat kisah tentang Nuh dalam Kejadian Pasal 6- 9. Ketika Tuhan melihat kejahatan manusia itu besar di bumi maka Tuhan memberi penghukuman dengan Air Bah. Dan sesudah penghukuman air bah itu maka Tuhan membaharui lagi perjanjian Kasih karunia dengan manusia yaitu Nuh dan dengan segala makhluk yang hidup 9,10. Isi perjanjian adalah bahwa Allah berjanji untuk tidak mendatangkan lagi air bah ayat 11. Janji itu ditandakan dengan pelangi/"busur" ayat 12. Sebuah Busur kita ketahui dilengkapi dengan tali dan anak panah maka itu akan menjadi sejata perang. Tapi busur Allah ini bukan senjata Perang. Busur Allah adalah Pelangi yang menjadi tanda kasih Allah dan menjadi lambang pengharapan manusia. Ini mengandung pengertian bahwa Allah meletakkan senjataNya seraya mengumumkan damai. Pelangi melengkung di awan untuk menunjukan kasih pemeliharaan Sang Pencipta yang melingkupi melengkung seluruh ciptaan. Apa kaitan peristiwa Natal dengan Pelangi? Di dalam Kitab Wahyu, Yesus Putera Natal digambarkan bagaikan pelangi yang melingkupi takhta. Dalam Ilmu Alam, pelangi adalah pembiasan cahaya Matahari yang terjadi sesudah hujan lalu menimbulkan spektrum warna warni “mejikuhibiu’ yang indah merah jingga kuning hijau biru ungu. Yesus adalah matahari kehidupan yang menyelamatkan kita yang menyertai hidup kita yang penuh warna. Peristiwa Natal menjadi pembaharuan perjanjian Allah dengan seluruh manusia. Natal menjadi sebuah kesempatan lagi dari Allah di mana Anak Allah menjadi manusia supaya manusia menjadi anak-anak Allah. Natal mengingatkan kita kembali untuk hidup sebagai keluarga Allah,’ yang dituntun oleh pelangi kasih-Nya yang meneguhkan iman dan menguatkan harapan. Kita semua adalah satu keluarga. Sebagai anggota keluarga, kita masing-masing mempunyai tanggungjawab untuk menjadikan hidup bersama di bumi ini semakin baik. Kita bertanggungjawab mewujudkan keluarga Allah yang damai, rukun, adil dan saling menerima dalam keberagaman. Jadi kita diingatkan untuk bijaksana dalam menyikapi bentuk-bentuk gangguan sosial yang dapat mengancam persaudaraan, perdamaian, di bumi yang adalah rumah kita bersama. Jadi pada perayaan Natal ini, apa yang seharusnya kita perbuat? Bersukacita? Tentu! Namun bagaimana wujud nyata bersukacita itu? Apakah sekadar berkumpul, makan, menyanyi, dan beribadah bersama? Apakah cukup dengan perayaan-perayaan yang menghabiskan sedemikian banyak dana dan tenaga? Ada hal yang tidak boleh kita lalaikan yang menjadi inti perayaan Natal bagi kita sebagai Anggota keluarga Allah, Kita berharga di mata Allah. Mari kita rayakan Natal dengan cara-cara yang menunjukan bahwa kita ini berharga jadi bukan dengan pesta pora mabuk-mabukan dan lain-lain. Ketika kita punya persoalan. Ingatlah bahwa pelangi akan muncul saat awan dalam keadaan sangat basah, dan kembali lagi setelah hujan turun. Jadi di tengah badai kehidupan kita tidak perlu takut sebab ada pelangi sesudah hujan dan badai. Semakin tebal awan itu, akan semakin cerah busur di awan itu. Maka semakin berlimpah-limpah kesengsaraan menghantam, akan semakin berlimpah-limpah pula penghiburan yang membangkitkan semangat. Jika kita berharga di hadapan Allah, itu berarti orang lain juga sama berharganya. Jangan sampai yang kita lakukan adalah sebaliknya. Kita bersukacita karena dipandang berharga oleh Allah, lalu malah bertindak buruk kepada orang lain seakan-akan mereka tidak berharga. Jadi bijaksana dalam menyikapi bentuk-bentuk gangguan sosial yang dapat mengancam persaudaraan, perdamaian, di bumi yang adalah rumah kita bersama. Mari kita lakukan hal ini sebagai wujud sukacita kita atas keselamatan yang telah Tuhan anugerahkan. Selamat Natal. Tuhan memberkati.